Sabtu, 21 April 2012

Banjir Dan Kemacetan Melanda Ibukota


Kampanye Cagub Seragam, Isu Primordial Jadi Penentu

b
Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)
Ilustrasi (Foto: Dok Okezone)
JAKARTA - Seragamnya janji-janji perbaikan tingkat kehidupan dalam kampanye yang diangkat oleh para calon gubernur membuat isu primordialisme dan etnosentris menjadi amunisi strategis di Pemilukada DKI Jakarta.

Peneliti senior Indonesian Institute, Hanta Yudha Ali mengemukakan setiap kandidat memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing. Namun, isu-isu yang mereka usung nyaris seragam. Mulai dari janji bakal mengurai kemacetan, mengatasi banjir, membuka lapangan kerja, perbaikan pelayanan kesehatan, hingga pendidikan murah.

"Karenanya isu primordialisme masih digunakan tim sukses dan konsultan politik di Pemilukada Jakarta. Apapun isunya, yang dilihat pemicunya. Jangan lupa Jakarta daerah khusus dengan birokrasi yang kuat,” ujarnya.

Analisis di atas disampaikan Hanta Yudha dalam diskusi The Indonesian Forum Seri 16 dengan temaIsu Primordialisme pada Pilkada DKI: Relevankah? di Gedung Indonesian Institute, Jalan KH Wahid Hasyim 194, Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (18/4/2012).

Hanta Yudha menegaskan sentimen primordialisme, yaitu Betawi akan menjadi pertimbangan utama para pemilih. Dari enam pasangan bakal calon gubernur (Cagub) dan wakil gubernur (Cawagub) tercatat beberapa yang berdarah Betawi. Sementara lainnya merupakan putra daerah yang mengadu nasib di ibu kota.
(ful)

Cagub DKI-1 “Impor,” Isu Pluralisme dan Primordialisme Muncul?


DKI Jakarta atau disebut juga Ibu Kota Negara Republik Indonesia ini mempunyai daya tarik tersendiri, sebagai pusat pemerintahan serta pusat bisnis dan juga tingkat urbanisai paling tertinggi. Sebagai Ibu Kota Negara, DKI Jakarta juga sangat unik beragam suku bangsa, etnis, agama pun ikut berkumpul dalam satu wilayah. Tidak lama lagi, sekitar 3 bulan kedepan daerah Ibu Kota akan melakukan pemilihan Cagub dan Wagub periode 2012-2017, “pesta” 5 tahun sekali ini menjadi sangat seru dikarenakan banyak sekali Cagub dan Wagub “Impor” yang mencalonkan diri sebagai pilihan Jakarta yang pantas. Selain itu juga, baru pertama kali ada calon Independen yang juga mencalonkan untuk pemilihan Cagub dan Wagub. Sebanyak 6 calon Cagub dan Wagub secara resmi telah mendaftar untuk mengikuti ajang “pesta” 5 tahun sekali ini, 2 diantara calon tersebut berasal dari Independen dan sisanya berasal dari Parpol.
Cagub-Wagub diluar daerah DKI Jakarta berdatangan untuk mengikuti “pesta” 5 tahunan ini, salah satunya adalah; Jokowi-Ahok. Joko Widodo yang berasal dari Kota Solo dan juga masih bertugas sebagai Walikota Solo, serta pendampingnya Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) mantan Bupati Bangka Belitung Timur dan juga mantan anggota DPR Komisi II ini ikut meraimakan “pesta” 5 tahunan ini. Uniknya dari kedua calon tersebut mereka berasal dari luar daerah DKI Jakarta atau bisa disebut juga mereka “Impor” untuk Cagub dan Wagub ini.
Sedikit kalangan/kelompok tertentu memunculkan isu-isu “Pruralisme dan Primordialisme” bahwa Gubernur DKI Jakarta harus orang asli Jakarta (Betawi) dan beragama Islam. Padalah menurut UUD, untuk  ikut berpartisipasi semua elemen masyarakat bebas tanpa harus membedakan unsur etnis serta agama. Permasalahan muncul ketika Cagub dan Wagub “Impor” ikut serta dalam pilkada, pertentangan dari kelompok membuat situasi menjelang pilkada semakin ramai. Apalagi serunya, pasangan Jokowi Widodo yaitu Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) merupakan kaum minoritas Tionghoa dan juga beragama nasrani. Isu-isu “Pruralisme dan Primordialisme” pun muncul seketika, apalagi banyak sekali di Jakarta yang membuat suatu kelompok-kelompok etnis maupun agama yang secara tidak sadar, hal ini dapat membuat perpecah belahan suku-bangsa Indonesia. Apakah isu-isu ini dibuat untuk kepentingan kalangan elit-elit ?? Entalah…. atau jangan-jangan “Putra Daerah” takut tersaingi ? Mungkin saja, munculnya Cagub-cagub “impor” dikarenakan Gubernur “lokal” gagal menghadapi masalah DKI Jakarta. Lihat saja 3 bulan kedepan, apakah yang “lokal” bisa bertahan ?

Perspektif Lain Menuju DKI-1


13322771861153765883

CAGUB DARIPADA
Ketua Dewan Pembina PDIP, Taufik Kiemas sadar benar bahwa yang tahu persoalan DKI saat ini adalah Foke. Karenanya, dengan gamblang dan tanpa tedeng aling-aling langsung Ia perintahkan agar PDIP merapat ke Foke. Adapun siapa yang bakal menemani Foke, kalau sekadar calon Wagub PDIP punya calon bejibun. Sebut saja misalnya nama Adang Ruchiatna, Boy Sadikin, Jokowi sendiri dan lain-lain.
Namun karena kendaraan Foke adalah Demokrat, sedang Bu mEga selaku ketua Umum PDIP masih menyimpan bara kesumat terhada Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat maka perkawinan Foke & kader PDIP menjadi laksana minyak dan air. Sulit diwujudkan. Padahal versi Demokrat, pasangan Foke & Adang tinggal ketuk palu saja. Kasihan…..
Dengan demikian kemunculan Jokowi & Ahok tidak lebih dari sekadar daripada, daripada. Terlepas dari alasan dan narasi yang mengiringi yang pasti calon ini menurut saya lebih tepat disebut calon daripada.
CALON UJI COBA
Popularitas Alex Noerdin dibanding Tantowi Yahya sebenarnya berdasar berbagai survey Tantowi lebih unggul. Selain keartisannya, tekad Tantowi berhasrat jadi DKI-1 sebenarnya sudah dipersiapkan sejak lama. Konsekwensinya, Tantowi telah menyiapkan infrastruktur dengan tertata lapi diseluruh lapisan ibu kota. Tak heran bila nama & gambar Tantowi telah berkibar diseantero jakarta. Terlebih tempat tinggal Tantowi yang ada disekitar Jakarta, semakin mudah akses dirinya dalam membangun jejaring silaturahim dengan warga Jakarta.
Diinternal DPD Golkar sendiri, melalui forum Musda (Musyawarah Daerah) telah bulat bermaksud mengusung ketua DPD-nya yaitu Prya Ramadhani yang kebetulan besan Ketua Umum Golkar.
Namun, Abu Rizal Bakrie punya itung-itungan tersendiri terkait dengan kepentingan Golkar jangka panjang. Dalam hal ini terkait pencalonan dirinya sebagai Capres 2014.
Dalam benak Abu Rizal, atmosfer Pemilukada DKI bisa dijadikan barometer. Seandainya Golkar berhasil menaklukkan ibukota maka dipastikan 2014 tiket menuju RI-1 bagi Ical —sebutan akrab Abu Rizal Bakrie—akan semakin mulus.
Untuk itu dipilihlah kader kawakan dari tanah Sumatera sebagai uji coba.
Dengan demikian kemunculan Alex Noerdin dalam bursa cagub bisa kita sebut sebagai calon uji coba.
CALON ARANG
Sosoknya dipastikan mayoroitas warga Jakarta mengenalnya. Karena salah satu hobby dari sang calon berikut ini adalah laksana foto model. Karena itu gambarnya bertebaran dimana-mana. Bukan Cuma di jalan-jalan protokol, di pekuburan sekalipun fotonya kerap dipajang. Dia adalah incumbent, Fauzi Bowo. Lebih sering dipanggil Foke, lengkapnya bang Foke (bukan Bokek apalagi bokep…. upf..!!).
Sepanjang lima tahun (2007-2012) masa baktinya dipastikan tidak ada prestasi yang membanggakan. Semuanya jalan ditempat. Tidak mengherankan apabila partai-partai yag dulu ikut menyokongnya sekarang pada mundur dengan teratur. Bahkan dengantegas, partai-partai tersebut menyatakan kekecewaannya dengan mendalam. Sebagai konsekwensinya, partai-partai tersebut kini memiliki calonnya sendiri-sendiri.
Satu-satunya kelebihan Foke adalah penguasaaanya terhadap birokrasi sangat kuat. Maklum, yang bersangkutan adalah dedengkotnya orang pemda DKI. Ia meniti karir dari bawah, hingga menjadi Gubernur saat ini. Tetapi potensi yang dimilikinya tersebut, sama sekali tidak menjadi nilai positif dalam kinerjanya. Sebagai bukti nyatanya, Jakarta semakin tidak nyaman untuk ditinggali. Kemacetan yang merajalela juga tingkat kejahatan dan premanisme yang semakin membabi buta. Singkat kisah, inilah Cagub yang mungkin bisa kita sebut calon arang. Karena eksistensinya hampir dipastikan bakal jadi arang ha ha ha….
CAGUB TERPAKSA
Pada mulanya Fauzi Bowo kepincut dengan calon dari PKS. PKS-pun menggadang-gadang, walau diposisikan sekedar jadi ban serep (Cuma wakil). PKS pikir, dengan mengawinkan kadernya dengan Fauzi bowo maka pundi-pundi modal kampanye dipastikan relatif aman. Disamping harus diakui, jejaring birokrasi memang sangat melekat berpihak pada sosok yang sering disapa Foke ini.
Hanya saja, Partai tempat Foke bernaung (baca: Partai Demokrat) para elitnya tampaknya kapok berkoalisi dengan PKS, makanya keinginan Foke disandingkan dengan kader PKS tidak digubris. Pilihannya, kalau Foke masih berminat dicalonkan lewat gerbong Demokrat, syaratnya musti nurut dengan Partai. Dicarilah jodohnya. Dapatlah Adang Ruchiatna (PDIP). Namun Ketum PDIP tidak merestui, pecahlah kongsi tersebut. Dan terpaksa, Ketua DPD Demokrat diminta mendampingi Foke daripada Foke didampingi kader PKS.
PKS sendiri tidak kehilangan akal. Ditinggal Foke (karena tekanan elite Demokrat),langsung mengeluarkan jurus pamungkas. Hidayat Nurwahid yang sedianya peruntukannya buat level Nasional, terpaksa diturunkan ke level provinsi untuk menghadapi paracagub yang sudah bergentayangan duluan.
Dari semua cagub-cagub yang ada maka secara sederhana Cagub yang TERPAKSA diturunkan sajalah yang memiliki kualitas diatas rata-rata dibanding cagub lainnya.Terlebih Cagub terpaksa ini didampingi oleh seorang profesional ekonom yang akademisi dan bergelar professor pula, makin mantap aja bro….
Selamat menimbang-nimbang untuk menentukan pilihan, un tuk jakarta yang lebih baik. Saran saya pilih yang memiliki NURANI.

Hubungan masyarakat


Hubungan masyarakat, atau sering disingkat humas adalah seni menciptakan pengertian publik yang lebih baik sehingga dapat memperdalam kepercayaan publik terhadap suatu individu/ organisasi[1].
Menurut IPRA (International Public Relations Association) Humas adalah fungsi manajemen dari ciri yang terencana dan berkelanjutan melalui organisasi dan lembaga swasta atau publik (public) untuk memperoleh pengertian, simpati, dan dukungan dari mereka yang terkait atau mungkin ada hubungannya dengan penelitian opini public di antara mereka.[2]
Sebagai sebuah profesi seorang Humas bertanggung jawab untuk memberikan informasi, mendidik, meyakinkan, meraih simpati, dan membangkitkan ketertarikan masyarakat akan sesuatu atau membuat masyarakat mengerti dan menerima sebuah situasi [3].
Seorang humas selanjutnya diharapkan untuk membuat program-program dalam mengambil tindakan secara sengaja dan terencana dalam upaya-upayanya mempertahankan, menciptakan, dan memelihara pengertian bersama antara organisasi dan masyarakatnya.
Posisi humas merupakan penunjang tercapainya tujuan yang ditetapkan oleh suatu manajemen organisasi. Sasaran humas adalah publik internal dan eksternal, dimana secara operasional humas bertugas membina hubungan harmonis antara organisasi dengan publiknya dan mencegah timbulnya rintangan psikologis yang mungkin terjadi di antara keduanya.
Contoh dari kegiatan-kegiatan Humas adalah: melobi, berbicara di depan publik, menyelenggarakan acara, dan membuat pernyataan tertulis.

Pengetahuan dan pengertian

Humas memiliki peran penting dalam membantu menginformasikan pada publik internal (dalam organisasi) dan publik eksternal (luar organisasi) dengan menyediakan informasi akurat dalam format yang mudah dimengerti sehingga ketidak-pedulian akan suatu organisasi, produk, atau tempat dapat diatasi melalui pengetahuan dan pengertian.

Penerimaan

Masyarakat mungkin bersikap melawan pada sebuah situasi karena mereka tidak mengerti apa yang sedang terjadi, atau mengapa hal tersebut terjadi. Profesi humas mempunyai peran kunci untuk menjelaskan sebuah situasi atau kejadian dengan sejelas-jelasnya sehingga ketidak-pedulian, dan bahkan sikap menentang, yang menjadi atmosfer disekelilingnya dapat diputar menjadi pengertian dan penerimaan.

Kegiatan humas

Tujuh puluh persen dari kegiatan seorang humas berhubungan dengan tulis menulis selain tugas-tugas lainnya. Diantaranya adalah:
  1. Merancang pesan tematik agar pesan yang disampaikan oleh organisasi memiliki keseragaman/ keterkaitan pesan. Contoh: Bank Niaga saat menggelar tema "Cinta".
  2. Melakukan segmentasi media, dimana seorang humas harus mampu memformulasikan keseimbangan saling dukung antara media cetak dan elektronik.
  3. Komunikasi interaktif. Contohnya beberapa organisasi dalam merancang logonya melakukan pelibatan konsumen dimana dilakukan kompetisi merancang logo, contoh lain adalah rubrik konsultasi atau jasa layanan konsumen melalui telpon.
  4. Menjaga reputasi perusahaan dan citra produk melalui pemanfaatan kekuatan pesan dan atau kombinasinya. Contoh: kegiatan sponsor: Dari Mayora.
  5. Iklan multiguna (memanfaatkan momentum psikologis). Contoh: bukan basa-basi.
  6. Penjualan simpatik. Contoh: Aqua menyisihkan hasil penjualan untuk pipa mengalirkan air di kawasan timur Indonesia.
  7. Melakukan iklan layanan masyarakat.
  8. Pemasaran dari mulut kemulut. Contoh: Taksi Bluebird dalam memasarkan reputasi yang baik jarang menggunakan iklan media massa.
  9. Ajang pemasaran khusus dimana aktivitas dirancang untuk melibatkan khalayak. Contoh: Ajang Jakarta Fair
  10. Memanfaatkan komunikasi yang akrab untuk pelanggan. Contoh: Layanan purna jual, dsb.



hasil Survei pilkada DKI 2012

Berita Lampung -  Akseptabilitas Tantowi di Atas Foke : Politisi Partai Golkar, Tantowi Yahya, menempati peringkat tertinggi untuk parameter akseptabilitas atau tingkat kesukaan masyarakat berdasarkan survei terhadap sejumlah calon gubernur untuk Pilkada DKI Jakarta 2012. 

Dalam survei jelang Pilkada DKI Jakarta yang dipublikasikan Media Survei Nasional (Median) dan The Future Institue (TFI) di Jakarta, Senin (24/10/2011), tingkat akseptabilitas Tantowi di mata para responden survei sebesar 79,8 persen, mengalahkan akseptabilitas Fauzi Bowo (Foke) yang merupakan petahana (incumbent) Gubernur DKI Jakarta yang hanya sebesar 54,7 persen.

"Tingkat akseptabilitas ini merupakan persentase dari angka popularitas yang diperoleh tiap kandidat. Artinya akseptabilitas Tantowi berada di level tertinggi karena populer di 91,5 persen," ujar Rico Marbun, Direktur Eksekutif Median.

Untuk tingkat popularitas, menurut Rico, survei yang dilakukan pada pekan keempat September hingga pekan pertama Oktober 2011 terhadap 845 responden dengan metode multistage random sampling dan tingkat kepercayaan 95 persen (margin of error 3,5 persen) itu menempatkan Fauzi Bowo pada posisi tertinggi dengan 97,5 persen, kemudian Tantowi Yahya dengan 91,5 persen.

Tingkat popularitas kandidat gubernur DKI Jakarta lainnya jauh di bawah kedua tokoh politik tersebut, yaitu Priyanto (66,5 persen), Tri Wisaksana (37,4 persen), Faisal Basri (36,8 persen), Nachrowi Ramli (24,8 persen), Priya Ramadhani (24,5 persen), Aziz Syamsuddin (19,6 persen), Hendardi Supandji (13 persen), Joko Widodo (9,2 persen), Nono Sampono (4,6 persen), dan Nugroho Djajoesman (2,9 persen).

"Dari nama-nama yang berkembang di publik saat ini, sampai dengan pengambilan data dilakukan, dapat dilihat bahwa di luar Wagub Priyanto, ada lima kompetitor potensial bagi incumbent, yakni Tantowi Yahya, Triwisaksana, Faisal Basri, Nachrowi Ramli, dan Priya Ramadhani," ujar Rico.

Namun dari sisi popularitas, masih kata Rico, lawan terberat Fauzi Bowo adalah Tantowi Yahya, walaupun tidak menutup kemungkinan peta pertarungan dapat berubah signifikan dalam beberapa bulan mendatang apabila tiap kandidat bekerja keras.

Selain mengukur tingkat popularitas para calon gubernur DKI Jakarta, survei yang dilakukan dengan cara wawancara tatap muka itu juga mengukur dua persoalan lain, yakni problem yang dianggap prioritas oleh penduduk DKI Jakarta dan mekanisme pemilihan gubernur sesuai kehendak penduduk Jakarta.

Untuk problem yang dianggap prioritas masyarakat Jakarta, survei menempatkan masalah kemacetan (31,32 persen), banjir (20,08 persen), kemiskinan (12,79 persen), dan ketersediaan lapangan kerja (9,73 persen) sebagai empat persoalan utama yang harus diselesaikan gubernur Jakarta mendatang.

"Ini berarti setiap kandidat yang ingin maju harus menawarkan solusi cerdas terhadap masalah tersebut," ujarnya.

Sementara itu, untuk mekanisme pemilihan gubernur yang sesuai keinginan masyarakat Jakarta, sebanyak 85,1 persen responden menyatakan gubernur dipilih oleh rakyat. Responden yang menyatakan gubernur dipilih oleh DPRD dan presiden, masing-masing hanya 8,86 persen dan 5,35 persen.

"Salah satu tujuan dari survei ini adalah untuk mengetahui apa keinginan masyarakat DKI Jakarta terkait mekanisme pemilihan gubernur karena mereka tentunya adalah stake holder utama," ucap Rico Marbun. sumber kompas


Sumber Berita Lampung: hasil Survei pilkada DKI 2012 Akseptabilitas Tantowi di Atas Foke |Terkini 

Jumat, 20 April 2012

Manusia Tertinggi di dunia

Suparwono adalah manusia tertinggi di dunia yang berada di daerah lampung , beliau adalah sosok manusia tertinggi yang ada di indonesia =D