Ada yang unik kalau melihat realitas politik saat ini. SBY tampaknya mulai berani “memecah telur”. Jika semula, SBY dan kawan-kawan merasa “tersandera” oleh mitra koalisi yang “bandel” yaitu PKS. Kini SBY mulai berani unjuk gigi. “Nih, aque…gitu loh. Siapa berani membantah? Minggir…”
PKS dikenal sebagai partai yang “demen mengancam”. Kalau ada kebuntuan transaksi politik, mereka sering keluar jurus “mengancam”.
Masalahnya rata-rata bukan soal membela rakyat, atau demi Nusa dan Bangsa. Tetapi umumnya seputar bagi-bagi kekuasaan, posisi menteri, jabatan publik, dll. Seperti saat kasus Bank Century. Disana sosok Andi Rahmat menjadi salah satu “pahlawan”. Tetapi setelah kasus itu diputuskan di sidang paripurna DPR, tidak tampak ada penuntutan serius ke ranah hukum. Malah partai-partai politik sepakat membangun “Setgap” (semacam setting-an untuk menjembatani gapantara partai SBY dengan partai-partai lain).
Kalau mereka benar-benar pro rakyat, pasti akan mengejar kasus Bank Century itu sampai ada hasil keputusan hukum tetap. Namun kita tahu semualah… Semua sudah tampak. Sering terjadi, kasus-kasus publik sengaja di-mainkan, demi memenangkan transaksi-transaksi politik. Begitulah…
Setiap ada momen pembentukan kabinet atau reshuffle, PKS kerap membuat manuver bernada “mengancam”. Misalnya, “Awas, kalau tak mendapat kursi, kami akan hengkang dari koalisi!” Atau semisal, “Awas kalau kursi kami dikurangi, kami akan mundur total dari kabinet.” Bahkan yang paling serem, “Awas, kalau SBY macam-macam, kami akan gerakkan kelompok Islam fundamentalis untuk menjatuhkan SBY.”
Tahun 2009, beberapa saat sebelum SBY mengumumkan calon Wapres Boediono di Sabuga, PKS mengancam akan mundur dari poros pendukung SBY. Mereka merasa dijanjikan, Hidayat Wahid akan ditasbihkan sebagai Cawapres SBY. Ternyata, SBY lebih memilih Boediono. Ancaman itu cukup menakutkan SBY, sehingga dia secara khusus perlu “silaturahmi” dengan Ketua Majelis Syura PKS, Hilmi Aminuddin. (Entahlah, apa yang dilakukan SBY terhadap Hilmi ketika itu. Apakah diberi kopi luwak hangat, disuguhi pop corn, atau dipijiti secara lembut? Yang jelas, hati PKS luluh).
Biasanya, untuk tujuan “menebar ancaman” ini, Fahri Hamzah atau Anis Matta yang disuruh tampil. Mereka berdua seperti bertugas sebagai “striker”. Seperti pada reshuffle bergaya flamboyan 19 Oktober itu. Di hari-hari menjelang reshuffle itu, Fahri Hamzah membuat geger publik dengan ide “mau membubarkan KPK”. Ini kan seolah sebuah isyarat: “Lihat nih! Kami masih punya kekuatan. KPK saja bisa kami bubarkan, kalau diperlukan.” Entah SBY bisa menangkap bahasa isyarat Fahri Hamzah atau tidak.
Dalam soal “tekan-menekan” ini, PKS termasuk istimewa. PKB sebenarnya juga punya “bakat” begitu. Tetapi caranya lebih halus, sesuai tatakarama khas kaum “aristokrat Jombang“. Di depan mata tampak garang, tapi ujung-ujungnya bisa diselesaikan lewat “salaman silaturahmi”.
Nah, setelah pengumuman formasi reshuffle Kabinet KIB Jilib II, 19 Oktober 2011, ternyata PKS kehilangan salah satu kursi menterinya. Tentu saja, elit-elit PKS “marah” atau kecewa. Bahkan, Hidayat Nur Wahid yang jarang terdengar suaranya, tiba-tiba ikut komentar. SBY dianggap telah “melanggar kontrak politik” dengan PKS. Dengan kata lain, SBY mengabaikan kontrak politik “spesial pakai telur” seperti yang disebut oleh Anis Matta.
Pengumuman formasi kabinet itu bagi yang mengamati politik SBY dari awal, sebenarnya sangat membosankan. Bosan sekali. Hal-hal seperti itu tak banyak berubah dari waktu ke waktu. Oke kita lupakan itu. Mari melihat realitas political crash-nya.
Apa yang disampaikan SBY dalam pengumuman reshuffle itu bisa dianggap sebagai TANTANGAN POLITIK bagi PKS. Seolah SBY menantang PKS untuk membuktikan ancaman-ancamannya selama ini.
Nah, pertanyaannya: “Beranikah PKS membuktikan ancamannya?Beranikah mereka menarik semua menterinya, atau mundur dari koalisi, atau paling hebatnya hendak menjatuhkan SBY? Beranikah?”
Kalau menurut saya, PKS tak akan berani melakukan semua itu. Saya yakin, ancaman PKS hanya “gertak sambal”. Mengapa demikian?
A. Karena PKS tidak pernah membuktikan ancaman-ancamannya selama ini. Hal ini menjadi dasar, bahwa semua itu hanya “retorika ancaman” belaka.
B. Karena PKS sangat dikenal berambisi menduduki jabatan, mulai dari Bupati/Walikota, Gubernur, Menteri, sampai Cawapres. Ini adalah kenyataan. Orang yang ambisi jabatan, pasti tak mau kehilangan jabatan.
C. PKS sudah tidak memiliki instrumen gerakan massa berbasis mahasiswa, seperti saat jaman Gusdur dan Megawati dulu. Infrastruktur gerakan massa mereka sudah lemah, atau sangat lemah. Ya, karena PKS gagal dalam membangun image IDEOLOGI. Mereka lebih kelihatan PRAGMATIS dan OPPORTUNIS. Padahal kaum mahasiswa rata-rata idealis.
D. PKS bisa menghitung secara cermat, bahwa mesin politik SBY di bawah masih cukup kuat. Mereka bisa main kekuasaan demi memenangkan pertarungan politik. Dan PKS tidak siap untuk semua itu.
Jujur ingin dikatakan, bahwa PKS akan kembali mengulang momentum “SABUGA 2009” lalu. Ia adalah semacam momentum “menjilat ludah kembali”. Mereka mengancam akan menarik diri dari koalisi, kalau Hidayat Wahid tidak bisa menjadi Cawapres SBY. Buktinya, mereka tetap setia berkoalisi sampai saat ini. Jadi, semua itu hanyalah “ilusi politik” yang sengaja ingin dimainkan PKS.
Dan…tampaknya SBY mulai “terbangun” dari semua ilusi ini. Jika semula merasa takut melihat gambar singa mengaum. Ternyata, singa itu hanya berupa lukisan di kertas. “Oh, hanya lukisan saja, tho. Saya kira, ini singa betulan. Duh, kenapa aku baru sadar sekarang?”
Yakinlah, PKS telah kehilangan sangat banyak kekuatan SPIRIT politiknya. Dampaknya, mereka akan berpikir 1000 kali untuk mundur jabatan. Kita nantikan sajalah…
(Pengamat “Ehm” Politik).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar