Sabtu, 21 April 2012

Perspektif Lain Menuju DKI-1


13322771861153765883

CAGUB DARIPADA
Ketua Dewan Pembina PDIP, Taufik Kiemas sadar benar bahwa yang tahu persoalan DKI saat ini adalah Foke. Karenanya, dengan gamblang dan tanpa tedeng aling-aling langsung Ia perintahkan agar PDIP merapat ke Foke. Adapun siapa yang bakal menemani Foke, kalau sekadar calon Wagub PDIP punya calon bejibun. Sebut saja misalnya nama Adang Ruchiatna, Boy Sadikin, Jokowi sendiri dan lain-lain.
Namun karena kendaraan Foke adalah Demokrat, sedang Bu mEga selaku ketua Umum PDIP masih menyimpan bara kesumat terhada Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat maka perkawinan Foke & kader PDIP menjadi laksana minyak dan air. Sulit diwujudkan. Padahal versi Demokrat, pasangan Foke & Adang tinggal ketuk palu saja. Kasihan…..
Dengan demikian kemunculan Jokowi & Ahok tidak lebih dari sekadar daripada, daripada. Terlepas dari alasan dan narasi yang mengiringi yang pasti calon ini menurut saya lebih tepat disebut calon daripada.
CALON UJI COBA
Popularitas Alex Noerdin dibanding Tantowi Yahya sebenarnya berdasar berbagai survey Tantowi lebih unggul. Selain keartisannya, tekad Tantowi berhasrat jadi DKI-1 sebenarnya sudah dipersiapkan sejak lama. Konsekwensinya, Tantowi telah menyiapkan infrastruktur dengan tertata lapi diseluruh lapisan ibu kota. Tak heran bila nama & gambar Tantowi telah berkibar diseantero jakarta. Terlebih tempat tinggal Tantowi yang ada disekitar Jakarta, semakin mudah akses dirinya dalam membangun jejaring silaturahim dengan warga Jakarta.
Diinternal DPD Golkar sendiri, melalui forum Musda (Musyawarah Daerah) telah bulat bermaksud mengusung ketua DPD-nya yaitu Prya Ramadhani yang kebetulan besan Ketua Umum Golkar.
Namun, Abu Rizal Bakrie punya itung-itungan tersendiri terkait dengan kepentingan Golkar jangka panjang. Dalam hal ini terkait pencalonan dirinya sebagai Capres 2014.
Dalam benak Abu Rizal, atmosfer Pemilukada DKI bisa dijadikan barometer. Seandainya Golkar berhasil menaklukkan ibukota maka dipastikan 2014 tiket menuju RI-1 bagi Ical —sebutan akrab Abu Rizal Bakrie—akan semakin mulus.
Untuk itu dipilihlah kader kawakan dari tanah Sumatera sebagai uji coba.
Dengan demikian kemunculan Alex Noerdin dalam bursa cagub bisa kita sebut sebagai calon uji coba.
CALON ARANG
Sosoknya dipastikan mayoroitas warga Jakarta mengenalnya. Karena salah satu hobby dari sang calon berikut ini adalah laksana foto model. Karena itu gambarnya bertebaran dimana-mana. Bukan Cuma di jalan-jalan protokol, di pekuburan sekalipun fotonya kerap dipajang. Dia adalah incumbent, Fauzi Bowo. Lebih sering dipanggil Foke, lengkapnya bang Foke (bukan Bokek apalagi bokep…. upf..!!).
Sepanjang lima tahun (2007-2012) masa baktinya dipastikan tidak ada prestasi yang membanggakan. Semuanya jalan ditempat. Tidak mengherankan apabila partai-partai yag dulu ikut menyokongnya sekarang pada mundur dengan teratur. Bahkan dengantegas, partai-partai tersebut menyatakan kekecewaannya dengan mendalam. Sebagai konsekwensinya, partai-partai tersebut kini memiliki calonnya sendiri-sendiri.
Satu-satunya kelebihan Foke adalah penguasaaanya terhadap birokrasi sangat kuat. Maklum, yang bersangkutan adalah dedengkotnya orang pemda DKI. Ia meniti karir dari bawah, hingga menjadi Gubernur saat ini. Tetapi potensi yang dimilikinya tersebut, sama sekali tidak menjadi nilai positif dalam kinerjanya. Sebagai bukti nyatanya, Jakarta semakin tidak nyaman untuk ditinggali. Kemacetan yang merajalela juga tingkat kejahatan dan premanisme yang semakin membabi buta. Singkat kisah, inilah Cagub yang mungkin bisa kita sebut calon arang. Karena eksistensinya hampir dipastikan bakal jadi arang ha ha ha….
CAGUB TERPAKSA
Pada mulanya Fauzi Bowo kepincut dengan calon dari PKS. PKS-pun menggadang-gadang, walau diposisikan sekedar jadi ban serep (Cuma wakil). PKS pikir, dengan mengawinkan kadernya dengan Fauzi bowo maka pundi-pundi modal kampanye dipastikan relatif aman. Disamping harus diakui, jejaring birokrasi memang sangat melekat berpihak pada sosok yang sering disapa Foke ini.
Hanya saja, Partai tempat Foke bernaung (baca: Partai Demokrat) para elitnya tampaknya kapok berkoalisi dengan PKS, makanya keinginan Foke disandingkan dengan kader PKS tidak digubris. Pilihannya, kalau Foke masih berminat dicalonkan lewat gerbong Demokrat, syaratnya musti nurut dengan Partai. Dicarilah jodohnya. Dapatlah Adang Ruchiatna (PDIP). Namun Ketum PDIP tidak merestui, pecahlah kongsi tersebut. Dan terpaksa, Ketua DPD Demokrat diminta mendampingi Foke daripada Foke didampingi kader PKS.
PKS sendiri tidak kehilangan akal. Ditinggal Foke (karena tekanan elite Demokrat),langsung mengeluarkan jurus pamungkas. Hidayat Nurwahid yang sedianya peruntukannya buat level Nasional, terpaksa diturunkan ke level provinsi untuk menghadapi paracagub yang sudah bergentayangan duluan.
Dari semua cagub-cagub yang ada maka secara sederhana Cagub yang TERPAKSA diturunkan sajalah yang memiliki kualitas diatas rata-rata dibanding cagub lainnya.Terlebih Cagub terpaksa ini didampingi oleh seorang profesional ekonom yang akademisi dan bergelar professor pula, makin mantap aja bro….
Selamat menimbang-nimbang untuk menentukan pilihan, un tuk jakarta yang lebih baik. Saran saya pilih yang memiliki NURANI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar